• UGM
  • IT Center
Universitas Gadjah Mada Nama Instansi
Universitas Gadjah Mada
  • Home
  • Menu 1
  • Menu 2
  • Menu 3
  • Beranda
  • Menara Ilmu
  • Integrasi Waste Management dengan Reverse Supply Chain Management

Integrasi Waste Management dengan Reverse Supply Chain Management

  • Menara Ilmu
  • 20 November 2018, 21.54
  • Oleh:
  • 0

Jumlah sampah semakin tahun semakin meningkat, sampah Indonesia pada tahun 2017 mencapai 187,2 juta ton (BPS, 2017). Di dunia diprediksi ada 1,3 miliar ton sampah dibuang setiap tahunnya dan diprediksi pada tahun 2025 naik menjadi 2,2 miliar ton (Mahajan dan Asoo, 2016). Data tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan sampah belum terintegrasi dengan baik. Masalah sampah terbanyak dikeluarkan oleh rumah tangga sebagai pengguna kebutuhan sehari-harinya yang banyak. Sampah menjadi perhatian didunia dan layak menjadi perhatian kita terutama karena Indonesia menjadi salah satu penyumbang sampah terbesar di dunia.

Hal yang dapat dilakukan oleh perusahaan adalah menerapkan integrasi antara waste management dan reverse supply chain. Rantai pasok klasik menggunkan sistem pasokan kedepan sehingga perusahaan tidak ada tanggung jawab atas produk yang sudah berkahir di rantai depannya (Govindan, dan Hamed, 2016). Perusahaan hanya menyuplai produk ke konsumen dan tidak berkewajiban untuk sebaliknya, menanggapi konsumen (aliran produk dari konsumen ke produsen akibat retur). Dengan semakin banyaknya dampak yang muncul dari sistem ini,digunakan sistem dua sisi yaitu menggabungkan rantai pasokan kedepan dan kebelakang (reverse). Secara umum dalam suatu rantai pasok tediri atas 3 tier utama, supplier sebagai pemasok bahan baku baik bahan organik maupun anorganik, manufaktur (principle) sebagai pengolah bahan baku untuk mendapatkan produk dengan nilai tambah, dan pasar yang merupakan end consumer dan penghasil sampah terbesar karena sudah sampai di bagian yang paling akhir.

konsep-waste-management-on-reverse-supply-chain-management
Gambar 1. Konsep Waste Management on Reverse Supply Chain Management
Sumber : Mahajan dan Asoo (2016)

Sistem SCM sekarang berkembang pesat, yaitu adanya reverse SCM yang erat kaitannya dengan kegiatan distribusi (produk cacat). Peran distributor selain mengirimkan produk dari produsen ke konsumen juga bertugas untuk mengalirkan produk dari konsumen ke produsen (retur produk cacat). Masalahnya sistem aliran kebelakang hanya sebatas produk cacat dan tidak mengikutsertakan sampah (limbah) yang ditimbulkan dari penggunaan produk oleh konsumen. Hal ini kemudian diangkat dalam bahasan SGD’s 2045 terkait pentingnya pengelolaan sampah yang semakin hari semakin mengenaskan dan membuat perubahan iklim.

Peran pengelolaan sampah umum tidak hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga perusahaan sebagai produsen produk. Pada prinsipnya waste management beritegrasi SCM adalah desentralisasi rantai pasok. Perusahaan berupaya mengelola kemasan produk agroindustri yang menjadi penyumbang sampah supaya tidak dipaksa masuk tanah (landfill) misalnya kemasan yang terbuat dari plastik atapun aluminum (seperti produk susu UHT). Setiap tier merupakan penghasil sampah dan didominasi oleh konsumen akhir. Sistem SCM yang desentralisasi akan membawa sampah pada setiap tier langsung diolah ke pengolahan sentral (manufaktur) dan tidak harus kembali melewati ke setiap tier (SCM Konvensional).

proses-waste-management-dengan-reverse-scm
Gambar 2. Proses waste management dengan reverse SCM

Dalam pelaksanaannya diperlukan sistem ketertelusuran produk oleh perusahaan (traceability) untuk memantau keberadaan produknya sampai ditangan konsumen dengan baik dan sampah (kemasan) bisa didaur ulang oleh perusahaan dengan sistem reverse channel.  Sistem pengumpulan sampah harus ada integrasi oleh pemerintah dan perusahaan untuk mencapai efisiensi dalam integrasi ini. Selain itu perkembangan IOT dengan gencarnya industri 4.0, hal ini memudahkan perusahaan dalam melakukan pengelolaan sampah dengan memanfaatkan saluran rantai pasok dari setiap produk yang dijualnya ke konsumen.

Proses ini sudah diterapkan oleh beberapa negara terutama di negara Jerman. Harapannya, sistem ini dapat diterapkan setiap perusahaan yang berkewajiban dalam pengelolaan sampah dan tidak hanya menjual produk (profit). Pengelolaan sampah yang terintegrasi oleh perusahaan merupakan investasi bagi perusahaan untuk masa depan dan hubungannya dengan masyarakat.

 

Sumber Pustaka :

[BPS] Badan Pusat Statistika. 2017. Statistika Lingkungan Hidup Indonesia 2017. Jakarta : Badan Pusat Statistika

Govindan, K. dan Hamed S. 2016. A Review Of Reverse Logistics And Close-Loop Supply Chain : A Journal Of Cleaner Production Focus. Journal Of Cleaner Production. No. 142. Hlm 371—384.

Mahajan, J. dan  Asoo J Vakharia. 2016. Waste Management: A Reverse Supply Chain Perspective. The Journal for Decision Makers 41(3). Hlm197–208

 

Penulis: Yusuf Abdhulah Aziz

Recent Posts

  • Pengelompokan Perkumpulan Petani Pemakai Air dengan Metode Fuzzy Clustering di Wilayah Pengasih Timur Sistem Irigasi Kalibawang
  • Industri Pangan Fungsional di Indonesia
  • Bagaimana Membedakan Klaim Ilmiah dan Hoax
  • Pangan Fungsional dan Nutrisetikal: Sejarah & Perkembangan Terkini
  • Potensi Pasar dan Konsumen Pangan Fungsional di Indonesia
Universitas Gadjah Mada

Alamat Instansi
Nomor Telepon Instansi
Email Instansi

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY